Membaca posting tentang cara penulisan referensi yg salah, saya jadi miris. Bukan krn contoh yg diperlihatkan, tp dari komentar2 yg arogan dan juga dari penulis yg tidak memberitahukan kesalahannya. Salah adalah wajar, mau dimana saja. Memperbaiki yg salah itulah amal yg mulia. Mau itu anak S1, S2, S3 sampe S>3 pun pernah salah. Saya bahkan pernah me-review manuskrip IEEE yg dikirim dr univ. di Singapore yg penulisan referensinya-pun ngaco. Ya di-review itulah kita beritahukan kesalahannya apa.
Dari komentar2 arogan tsb., cuma ada seorang yg bertanya betulan bgmn cara menulis referensi yg benar. Sayang, gak dijawab juga dr si penulis maupun dr yg memberikan komentar. Saya juga beri komentar di sana dgn memberi tips utk memakai BibTeX krn inilah tool standar penulisan referensi yg benar.
Saya gak mau menulis tutorial ttg cara penulisan karya ilmiah dan referensi yg benar. Saya cuma mau memberitahu tips bahwa menulis yg baku dan standar sebenarnya mudah jika kita menggunakan tools yg benar. Apa itu?
LaTeX
Pada umumnya karya tulis ilmiah di jurnal2 ataupun proceedings internasional ditulis dgn menggunakan pemrosesan dokumen LaTeX, yaitu tool pemroses dokumen yg berbasis dari text processing (TeX) yg diciptakan oleh prof. Donald Knuth. Apa sih sebenarnya? Coba silakan baca tutorial pendek dari seorang blogger Indonesia ini.
Nah jika anda sudah memakai LaTeX untuk menulis sebuah dokumen, yg menarik adalah anda tidak perlu lagi memikirkan format dokumen tsb. Anda cukup berkonsentrasi pada isi (materi). Soal layout paragraph, pake kurung siku atau enggak kalo nulis referensi, spasi margin dll. semua sudah ada standar bakunya. Lebih enak lagi kalo dokumen anda penuh dgn persamaan2 matematik. Waduuuh jauh banget deh mudahnya dibandingkan M$ Equation misalnya.
Begitu pula dgn penulisan referensi. Dgn menggunakan tool varian utk LaTeX, yaitu BibTeX, anda tidak perlu lagi memikirkan format penulisan referensi. Cukup anda tulis nilai2 parameter utk suatu referensi, misalkan pengarang, judul, tahun, dll. Setelah itu, tinggal compile dan lihat dokumen PDFnya. Beres.
Apa??? Compile? Menulis atau memrogram nih?
Hehehe, begitulah kalo profesor computer science menciptakan alat bantu. Dan inilah yg suka menjadi kendala pemula utk mulai memakai LaTeX dibandingkan dgn alat2 bantu WYSIWYG lainnya, misalkan M$ Word dkk. Jangan khawatir, sudah banyak front-end LaTeX yg membuat kita mudah memulai menulis dokumen LaTeX. Gak spt 15 thn yg lalu dimana saya harus ketik pake Vi lalu compile di console. Pusing deh kalo ada yg salah ketik.
Untuk Windows, saya sarankan untuk menggunakan TeXnicCenter. Tampilannya bagus dan penuh dgn fitur2 yg memudahkan penulisan dokumen LaTeX, misalkan syntax highlighting, lihat struktur dokumen, dll. Dan biasanya utk Windows, distribusi MikTeX-lah yg paling sering dipakai utk komponen2 LaTeX-nya. Untuk Mac, saya sarankan TeXShop.
BibTeX
Bagaimana dgn BibTeX? Wah ini dia yg paling saya suka. Front-end BibTeX bisa dipakai gak untuk menulis suatu dokumen saja, tapi bisa dipakai utk koleksi perpustakaan artikel2 yg saya baca. Yg paling bagus adalah BibDesk utk Mac OS X. BibDesk biasa saya pakai utk kumpulan pustaka saya, seperti layaknya perpustakaan. Yg paling canggih adalah fasilitas utk mencari pustaka online langsung dr BibDesk (langsung ke ISI Web of Knowledge atau PubMed), import bibitem, simpan PDF ke hard disk lokal. Hebatnya lagi adalah semua itu saya lakukan tanpa mengetik manual pengarang, judul, dll. Semua sudah otomatis. Jadi cukup menggunakan BibDesk, saya simpan semua arsip paper2 yg saya baca dan enaknya adalah BibDesk menyimpan database arsip paper dalam bentuk bib file sehingga saya tinggal pakai file itu utk penulisan dari LaTeX.
Untuk Windows, teman sekantor saya memakai JabRef. Katanya sih bagus, sekelas BibDesk juga, tapi saya gak tahu krn saya gak pernah pake tuh.
Nah mungkin tulisan saya ini bisa membantu mahasiswa atau siapa pun yg ingin menulis karya ilmiah dgn baik dan benar. Ada banyak tutorial utk memakai LaTeX dan BibDesk. Silakan dicoba deh.
Dalam proses pembelajaran ada kalanya kita biarkan murid mencari jawaban (meski akan nabrak sana dan sini) dan ada kalanya kita “suapi”. Untuk kali itu saya tidak ingin menjadi sok tahu dengan menjabarkan semuanya. Untuk kali itu *proses* (mencari jawaban) lebih penting bagi saya daripada jawaban yang “benar”.
Coba perhatikan jawaban yang ada, tidak ada yang memberikan *referensi* mengenai jawabannya. hi hi hi. (ephi yang mengarah ke arah yang benar.) Justru itu yang saya tunggu-tunggu.
BibTeX pun sebetulnya hanya sebuah tools, dimana standar penulisannya masih bergantung kepada jurnal / publikasi yang kita tuju. Jadi, jangan asal menggunakan tools tanpa mengetahui mengapa (apa yang benar). Bisa jadi Anda menggunakan BibTeX tapi dengan menggunakan style yang salah (pakai IEEE padahal akan submit ke journal ilmu hukum atau ACM yang stylenya beda lagi). he he he.
Oh by the way, saya juga meggunakan LaTeX (dan bahkan TeX) sejak tahun 1988 (Boy, that’s more than 20 years!) dan saya sempat juga menjadi customer / tech support TeX di computing services untuk sebuah universitas di Canada (dengan pengguna sistem lebih dari 5000 orang). hi hi hi. Namun, lagi-lagi … dia hanya sebuah tools.
Yang penting adalah pemahaman mengenai konsep referensi itu sendiri.
@Budi Rahardjo:
Betul, tapi apakah dgn cara menayangkan contoh salah spt itu adalah cara pembelajaran yg baik? Lihat bgmn komentar2 yg ada yg membuat saya miris seolah2 mhs bapak tsb adalah bodoh tolol dungu gak ketulungan krn dia anak S2. Apa yg bpk tulis di sana sama spt kasus menghakimi copet oleh massa.
Apa yg salah dr mhs bapak tsb? Gak ada yg jawab dan bapak sendiri gak menjawab.
Maaf ya Pak, bukan saya menggurui bapak dlm tulisan ini. Saya tahu bapak lebih hebat drpd saya dan punya pengalaman yg jauh lebih banyak. Tulisan saya di sini cuman utk share buat yg punya masalah dgn penulisan referensi yg benar.
Saya tulis utk yg belum pernah tahu latex dan bibtex, dan moga2 tulisan saya ini bisa membantu mereka. Alhamdulillah.
Soal style latex, kan semua juga ada guidelines-nya. Mau kirim ke jurnal biologi, ada guideline style-nya apa. Mau ke jurnal hukum juga ada petunjuknya sendiri. Jadi bukan soal asal menggunakan tool, Pak. Tapi di sini saya cuma memberitahu tool apa yg memudahkan kita utk memecahkan masalah yg ada.
saya setuju dengan semuanya. menurut saya cara Pak Budi benar, apalagi itu sudah S2. pak budi mau posting saja sudah baik hati, kalau S2 minta disuapi ya capek yang nyuapi, kalau pertanyaannya diperluas dan harus ditraceback ke dimana dia dapet S1 yang seharusnya dia dapet pelatihan mengenai bagaimana menulis yang baik dan benar.
Mengenai LaTeX. apakah di ITB sudah ada gerakan membudayakan LaTeX. kalau Pak Budi dkk yang pernah kuliah di luar negeri pakai latex saya sama sekali tidak heran, kondisi disana memaksakan untuk menggunakan TeX family, tapi kalau disini? belum mempertimbangkan misalnya nulis skripsi. skripsinya saja sudah buwat stress apalagi LaTeX nya.
Ditempat saya petunjuk penulisan skripsi saja masih word minded. tidak secara eksplisit tapi secara tidak langsung demikian.
Kita mulai dari hal yang sederhana saja bagaimana. Standard Penulisan Skripsi dan Thesis untuk kampus X
reply: Mungkin maksud Pak Budi memang baik, tapi jadinya spt penghakiman mahasiswa pak Budi dgn komentar2 yg mengenaskan. Kesian kan. Soal pake latex awalnya stress, wah sama dulu saya stress juga. Tapi saya jamin kalo skrg ini lebih sedikit stressnya krn tools yg saya sebut di atas sudah memudahkan sekali utk memulai latex. Saya punya teman sekantor yg baru mulai latex bbrp minggu y.l krn dia butuh utk submit paper dia ke konferensi yg mengharuskan menggunakan latex. Gak payah tuh dia pake front-end latex yg saya sebut di atas. Googling sedikit buat cari tahu perintah yg dipake ato liat template yg ada, beres.
Ayo deh pak, coba mulai saja sedikit menulis skripsi bapak dgn latex. Anggap aja sambil iseng menghilangkan stress dari materi skripsinya. Kalo stress nya malah bertambah banyak (moga2 aja nggak), ya tinggalin aja latexnya, pindah ke word.
wah pengen coba kapan2 menggunakan Latex
reply: coba deh mulai sedikit2. Pake aja tool yg saya sebut. Udah gampang kok nulisnya, tinggal baca tutorial sedikit aja. Nti deh kapan2 klo iseng saya bikin tips lagi memulai LaTeX.
Jadi rencana dulu itu pakai OpenOffice dulu terus nantinya mau dikonvert (bukan dikonvert pakai tools tapi manual maksudnya) ke latex. tapi sumprit nulis rumus di OpenOffice aja setengah mampus, bukan berarti oo math lebih jelek tapi karena belum terbiasa dan terlalu terbisa dengan equation. akhirnya.
- save as .odt ke rtf.
- dibuka pake word. dan disimpen di folder ARIMA-ANN-WORD. agak mengenaskan. dan sedih rasanya kalau baca word dibelakang nama folder skripsi.
Sebenarnya lebih dari sekedar latex saya pengen pake R untuk menggantikan Eviews dan Scilab untuk menggantikan matlab. sebenarnya pakai apapun sama saja buat saja, semuanya sama-sama belajar dari nol, dan belajar sendiri dari buku dan tutorial. tapi bagaimanapun juga buku matlab lebih banyak. Eviews manualnya jauh lebih lengkap dibanding scilab, mungkin sama lengkapnya cuma saya yang malez digging terlalu dalem (jadi memang bawaanya males bukan softwarenya yang susah atau manualnya yang gak lengkap).
Mimpi di kata pengantar skripsi bisa nulis “terima kasih untuk Donald E. Knuth untuk TeX, dan Lessie Lamport untuk LaTeX nya”. mungkin besok pas revisi bisa dikonvert ke LaTeX, kalaupun gak ya besok2 semoga dapet kesempatan sekolah S2. S3, S4, S5, S6….,SX
jadi bisa pake latex
reply: Wah mas ini mirip spt saya ya. Saya juga pake R buat statistik, tp gak utk ganti matlab. I love matlab. Jadi biasanya saya pake matlab utk rapid prototyping (alias riset cepat dan asoy
), abis itu kalo butuh statistik tinggal buka R (dan enaknya ada paket R yg bisa baca dan nulis langsung ke matlab), trus bikin laporan pake latex. Nah kecuali kalo hrs ikutan develop program bareng2 ya terpaksa berkutit di C++.
Soal matematik susah di OO, wah memang itulah kenapa saya gak pake OO, Word dan sejenisnya. Selain susah, tulisannya jueleek banget. Sebenarnya kalo mas pake Mac, ada program LaTeX Equation Editor yg bisa generate persamaan matematik pake latex trus disimpan ke PNG ato PDF. Generate-nya juga ada front-end yg enak, spt menu memilih templat persamaan2 matematik. Saya gak tahu kalo di Windows, ada apa gak ya? Nti deh saya googling dulu.
…. (ceritanya googling, bukan guling2) …..
Eh bentar, barusan googling dapet ini online LaTeX equation editor, gambar hasilnya bisa didownload. Ada widget utk iGoogle-nya lagi. Ada juga ini latex equation editor utk Linux. Ah…. ada ini katanya utk Windows, tapi saya gak tahu bagus apa gak. Silakan dicoba deh.
Salam kenal juga…
Mas ini orang Indonesia kan? Sekarang tinggal di Jepang?
Mau tanya, “R” itu buat apa? Punya link-nya gak? (ingin tahu dan ingin belajar)
reply: Iya, orang Indonesia asli, lagi kesasar skrg, tapi bukan di Jepang. Ada deh…
R itu bahasa pemrograman yg difokuskan ke pengolahan data statistik. Open source bahasa S-nya SPSS. (Memang edan ya org bikin nama bahasa pemrograman. Saya pernah cek dari bhs pemrograman A sampe Z pun ada). Kalo mo coba, bagus lo, krn banyak sekali pengarang2 buku statistik yg menggunakan R sebagai contoh di bukunya. Grafiknya yg saya suka krn bagus sekali hasilnya dan bisa di-ekspor ke PDF dgn cantik.
salam kenal mas, numpang lewat… saya juga sudah lama pengen dan lagi belajar pake Latex -atas usul teman saya-…
mudah2an saya sudah bisa migrasi dari word-minded jadi Latex-ers tahun ini…
salam kenal
saya peternak lebah madu yang baru belajar nulis di blog, pengin belajar nulis yang bagus itu gimana ya?
http://www.binaapiari.com
ingin sehat alami baca semua di http://herbaqu.wordpress.com
Budi Raharjo itu dosen ITB yah?
Brenti aja jadi dosen. ga tau sopan santun.
sok tau, tapi ga mau ngasih tau.