Feeds:
Pos
Komentar

(sorry ya kali ini saya nulis pake bhs london, krn topik ybs memakai bhs inggris ini)

When you criticize somebody, always make a point on his/her works and never attack their personalities. This is how you hold a healthy debate. Anywhere. At schools, at a political campaign, at a conference, even at a blog although that’s the place you can dump trashes from your brain in one direction. It feels me sick if somebody is attacking other people in a blog, but (s)he does not refer to the content of what the other people wrote.

Actually nobody minds if there is no exposure about such a personal attack blog post. However, in a blog post written supposedly about “blogger Indonesia of a week”, aggregated in blog-indonesia.com and who-knows-other aggregators, instead of reviewing the blogger, the author bashed other anonymous bloggers because they are such a coward not to reveal their true identity. (The author has been actively advocating something about credibility of an anonymous blogger in other posts, but I don’t read them because they are just baseless personal analysis.)

In the media of anonymities you can’t judge the person because (s)he had made a choice to be an anonymous. Do you know who’s the TIME’s 2006 Man of the Year? It’s you, the anonymous person who has shaped the world through anonymous writings, posting, uploads in Wikipedia, YouTube, MySpace and of course millions of blogs. Anonymities have made the great world we are living in.

So here’s my tip: always criticize the content and do not attack a person. In Wikipedia, where I’ve spent almost one year of writings under my other pseudonym, there is a jargon of no personal attacks when dealing with disputes. Discuss the content, not the person. That works very well and has solved a lot of controversial writtings and issues in Wikipedia.

And for onymous writers, sorry, you’re not the man of the year yet. 😉

Peribahasa kuno ya, klise, tapi coba kalo betul2 dipraktekkan, pasti berhasil. Selemah apapun kita kalau kita bergotong royong dlm memecahkan suatu masalah, insya Allah pasti menjadi mudah. Hal ini juga berlaku di alam rimba.

Hukum rimba, yaitu siapa yg kuat dia yg berkuasa, ternyata gak selalu betul 100% tuh. Tahu kan siapa si raja hutan? Singaaaa !! (kayak anak SD aja) 🙂 Nah gimana kalo ternyata singa kalah ama banteng? Hah yg bener? Yup dan ini betulan lo bukan soal politik PDI-P, hehehe.

Saya punya link video yg sangat bagus dan betul2 unik. Kejadiannya waktu ada grup safari di Afrika. Kalo yg belum pernah lihat, silakan deh jgn ketinggalan sama minimal 25 juta orang yg pernah melihat video ini (statistik terakhir yg saya lihat di YouTube).

Lanjut Baca »

Membaca posting tentang cara penulisan referensi yg salah, saya jadi miris. Bukan krn contoh yg diperlihatkan, tp dari komentar2 yg arogan dan juga dari penulis yg tidak memberitahukan kesalahannya. Salah adalah wajar, mau dimana saja. Memperbaiki yg salah itulah amal yg mulia. Mau itu anak S1, S2, S3 sampe S>3 pun pernah salah. Saya bahkan pernah me-review manuskrip IEEE yg dikirim dr univ. di Singapore yg penulisan referensinya-pun ngaco. Ya di-review itulah kita beritahukan kesalahannya apa.

Dari komentar2 arogan tsb., cuma ada seorang yg bertanya betulan bgmn cara menulis referensi yg benar. Sayang, gak dijawab juga dr si penulis maupun dr yg memberikan komentar. Saya juga beri komentar di sana dgn memberi tips utk memakai BibTeX krn inilah tool standar penulisan referensi yg benar.

Saya gak mau menulis tutorial ttg cara penulisan karya ilmiah dan referensi yg benar. Saya cuma mau memberitahu tips bahwa menulis yg baku dan standar sebenarnya mudah jika kita menggunakan tools yg benar. Apa itu?

Lanjut Baca »

Pasti dong pernah bikin pesawat dari kertas waktu SMA dulu trus dilempar dari bangku belakang buat nimpuk si guru yg ngajarnya bikin ngantuk abis itu nunjuk temen sebelah yg dibenci buat jadi kambing hitam. Pernah gak? Wahahaha bukan ngajarin yg gak bener nih buat adek2 SMA. 🙂

Gimana kalo di jaman internet ini kita bikin pesawat2 kertas jadul itu secara virtual? Mau coba?

Lanjut Baca »

Bajakan kopi dangdut

Kebalik deng. Harusnya kopi dangdutnya Fahmi Sahab adalah bajakan dari lagu orang Venezuela. Lagu aslinya bernama moliendo cafe, dikomposisi oleh Hugo Blanco, musisi Venezuela. Ceritanya si Hugo ini menulis moliendo cafe bareng dgn pamannya, Jose Manzo Perroni. Setelah terkenal, eh pamannya (katanya) menuntut si Hugo ini.

Lalu gimana kelanjutannya sampe jadi kopi dangdut versi Indonesia? Lanjut Baca »